Selasa, 04 Mei 2010

Penyakit Cacingan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penyebab suatu penyakit atau dikenal dengan istilah Agent penyakit dapat berupa bakteri, virus, jamur, dan parasit. Parasit sebagai agent penyakit berupa cacing. Cacing dapat mengkibatkan berbagai penyakit mulai dari penyakit ringan sampai pada penyakit yang berat. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak masyarakat yang menyepelekan masalah higien pirbadi dan masalah kebersihan lingkungan. Padahal, hiegien pribadi dan sanitasi lingkungan yang buruk dapat menjadi pemicu utama penyebaran penyakit yang disebabkan oleh cacing.

1.2. Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui epidemiologi, etiologi, penularan, tanda dan gelaja, diagnosis dan pengobatan, serta pencegahan terhadap penyakit yang disebabkan oleh cacing. Dengan adanya pengetahuan tentang hal tersebut diharapkan agar masyarakat lebih memperhatikan higien pribadi dan keberdihan lingkungan. selain itu tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai salah satu sarat pemenuhan tugas mata kulia Epidemiologi, serta di harapkan dapat menjadi bahan bacaan yang bermanfaat nantinya.

1.3. Rumusan Masalah

Untuk mempermudah memahami tulisan ini, maka penulis merumuskan batasan-batasan permasalahan yang akan dibahas pada bab selanjutnya. Adapun rumusan masalahnya yaitu :

à bagaimana epidemiologi, etiologi, penularan, tanda dan gelaja, diagnosis dan pengobatan, serta pencegahan terhadap penyakit yang disebabkan oleh cacing?

1.4. Metode Penulisan

Dalam penulisan makalah ini, metode yang penulis gunakan adalah studi pustaka, yaitu dengan membaca buku atau referensi yang berkaitan dengan permasalahan yang penulis bahas. Selain itu penulis juga mendapatkan bahan kajian dari internet dari beberapa situs liannya yang erat kaitannya dengan topic yang penulis bahas.

1.5. Sistematika Penulisan

a. Nematoda/ Cacing Bulat/ Cacing gelang

i. Cacing tambang (ankilostomiasis)

ii. Cacing gelang (ascariasis)

iii. Cacing kremi (enterobiasi)

iv. Cacing cambuk (trichuriasi)

b. Cestoda/ cacing pita/ taeniasis

i. Cacing pita daging

ii. Cacing pita ikan

iii. Cacing pita tikus

c. Trematoda (cacing daun)

i. Schistosoma mansoni

ii. Schistosoma japonicum

BAB II

ISI

2.1. Nematoda (Cacing Bulat/ Cacing Gelang)

2.1.1. Cacing Tambang (Ankilostomiasis)

Cacing ini disebut sebagai cacing tambang karena ditemukan pada buruh-buruh yang bekerja di daerah pertambangan di Eropa. Penyebaran geografik penyakit yang disebabkan oleh cacing ini banyak menyerang daerah tropis dan subtropis, derah katulistiwa, pertambanga, dan perkebunan.

à Epidemiologi

Hospes utama dari cacing tambang adalah manusia. Menyerang semua umur dengan proporsi terbesar pada anak-anak karena aktivitas anak yang relatif tidak higienis dibandingkan dengan orang dewasa. Diperkirakan 700-900 juta orang di dunia kehilangan 1 juta darah (1 orang= 1 ml darah terhisap cacing). dalam suatu penelitian angka kesakitan akibat cacing tambang adalah 50% pada balita, sedangkan 90% anak yang terserang adalah anak berumur 9 tahun.

à Etoilogi

Terdapat tiga spesies cacing tambang yang menybabkan penyakit, yaitu necator americanus, Ancylostomaduodenale, dan Ancylostoma ceylonicum. Necator americanus dan Ancylostoma duodenale banyak ditemukan di Asia dan Afrika.

ciri-ciri Necator americanus: banyak ditemukan di Indonesia, menyerupai huruf S dengan ukuran 5-13 mm X 0,3-0,6 mm dimana cacing betina lebih besar dari cacing jantan, mulutnya mempeunyai sepasang benda khitin, bertelur lebih kurang 10.000-20.000 per hari dengan ukuran telur 64-76 mm X 36-40 mm.

ciri-ciri Ancylostoma duodenale: menyerupai huruf C, Mulutnya mempunnyai dua pasang gigi, dan yang betina mampu mengahsilkan telur kurang lebih 28000/hari/ekor.

à Penularan

Cacing tambang hidup dan bertelur didalam usus halus dengan mulut melekat pada mukosa dinding usus dan kemudian keluar bersama tinja. telur akan berkembang menjadi larva ditanah. Telur akan menetas dalam waktu 1 hari-1,5 hari. Larva bentuk pertama adalah Rhabditiform yang akan berubah menjadi filariform dalam waktu 3 hari kemudian. Dari telur sampai filariform membutuhkan waktu 5-10 hari. Larva masuk tubuh melalui kulit telapak kaki terutama N.Americanus untuk masukke peredaran darah, selanjutnya larva akan ke paru, terus ke trakea, berlanjut ke faring, kemudia larva tertelan ke saluran pencernaan. Larva bisa hidup 8 tahun dengan menghisap darah (1 cacing = 0,2 ml/hari). Cara infeksi cacing A. duodenale selain menembus kulit juga dapat tertelan bersama makanan.

Gambar 1. Siklus Hidup Cacing Tambang

à Gejala dan Tanda

1. Stadium Larva

- Pada kulit : Ground itch

- Pada paru : Pneumoniotis ringan

2. Stadium Dewasa

- ganggguan saluran pencernaan seperti mual, nafsu makan berkurang, muntah, nyeri perut, dan diare. dan dapat menyebabkan Anemia Hipokrom Mikrositer

à Diagnosis dan Pengobatan

Menemukan telur dalam tinja segar, diagnosa spesiesà biakan tinja Harada-Mori. Adapun pengobatannya :

- Pirantel Pamoat dosis tunggal 10 mg/kg BB

- Mebendazol 100mg, 2x sehari selama 3 hr

- Obat lain misal Albendazol 400ng sehari, selama 5 hr

à Pencegahan

Kegiatan pencegahan dapat dimulai dengan survei prevalensi untuk memulai besarnya endemisitas di suatu daerah. Kegiatan dilanjutkan dengan pengobatan penderita, penyuluhan, perbaikan sanitasi, terutama jamban kelurga yang sehat, selain itu membudayakan mencuci tangan serta menggunakan alas kaki bagi masyarakat yang berisiko tertular.

2.1.2. Cacing Gelang/ Bulat Besar (Askariasis)

Ascariasis adalah penyakit cacing yang paling besar prevalensinya diantara penyakit cacing yang lainnya, yang disebabkan benyaknya telur disertai dengan daya tahan telur yang mengandung larva cacing pada keadaan tanah yang kondusif.

à Epidemiologi

Infeksi pada manusia terjadi karena tertelannya telur cacing yangmengandung larva infektif melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Vektor lalat juga dapat berperan dalam hal ini. Ascariasis terutamamenyerang anak-anak. Penyakit ini banyak dijumpai pada daerah tropis, dan di Indonesi prevalensinya 60-90%.

à Etiologi

· Ascaris Lumbricoides cacing berwarna merah dan berbentuk selinder,

· ukaran cacing jantan 15-25 cm X 3 mm dengan ekor melingkar dan betina 25-35 cm X 4 mm.

· Cacing betina mampu hidup selama 1-2 tahun dengan produksi telur 200.000 telur perhari.

· Ukuran telurnya 40-60 mm

Gambar 2. Morfologi Ascaris Lumricoides

à Penularan

Penularan ascariasis pada manusia dapat dilihat dari siklus hidup cacing: telur dikeluarkan melalui tinjaà dalam lingkungan yang sesuai akan berkembang menjadi embrio dan menjadi larva yang infektif dalam telurà telur tertelan oleh manusiaàdalam usus larva akan menetasàlarva keluar dan menembus dinding usus halus menuju sistem peredaran darahàlarva menuju ke paruà trakea, faring, dan tertelan masuk ke esofagus hingga ke usus halusà menjadi dewasa di usus halus. (Siklus hidup cacing belangsung selama 65-70 hari).

Gambar 3. Siklus Hidup Ascaris Lumricoides

à Gejala dan Tanda

Hanya sebagian kecil yang menunjukkan gejala klinis, sebagian besar asymtomatis.

1. Larva pada paru menimbulkan sindroma Loeffler, dari yang ringan seperti batuk sampai yang berat seperti sesak nafas.

2. Cacing dewasa

- gangguan usus ringan

- infeksi berat : malabsorbsi yang memperberat malnutrisi, ileus, infeksi ektopik ke empedu, appendiks atau bronkus.

à Diagnosis dan Pengobatan

Diagnosisnya yaitu menemukan telur dalam tinja dan cacing dewasa keluar melalui mulut, bersama muntah, dan bersama tinja. Pengbatan yang dilakukan:

1. Perorangan atau masal pada masyarakat, syarat-syarat pengobatan masaal :

- obat mudah diterima masyarakakat

- aturan pakai sederhana

- efek samping minimum

- bersifat polivalen

- harga murah

2. Obat-obat yang dapat digunakan :

- pirantel pamoat, dosis tunggal 10 mg/kg BB

- mebendazol 100 mg, 2 x sehari selama 3 hari

- albendazol (anak >2 thn) 400 mg (2 tablet) dosis tunggal

à Pencegahan

Pencegahan dapat berupa perbaikan perilaku berupa kebiasaan mencuci tangan, menjaga kebersihan pribadi, menggunakan alas kaki, tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman terutama sayuran, dan perbaikan sanitasi lingkungan terutama pemakaian jamban keluarga yang memenuhi syarat kesehatan.

2.1.3. Cacing Kremi (Enterobiasis)

Secara klinis penyakit yang ditimbulkan oleh cacing kremi atau Enterobius /Oxyuris Vermicularis ini tidak berbahaya karena infeksi cacing ini lebih merupakan implikasi sosial bagi anak dan keluarganya dari pada masalah medis.

à Epidemiologi

Oxyuris Vermicularis tersebar diseluruh dunia, terutama daerah yang faktor perilaku sehatnya masih rendah. Pada daerah dingin lebih banyak dari pada didaerah panas, dan ditunjang oleh hubungan erat antar manusia satu dengan yang lainnya. Enterobiasis banyak pada anak-anak karena perilaku menggaruk dan daya tahan tubuh yang masih rendah pada anak.

à Etiologi

Enterobius /Oxyuris Vermicularis dewasa merupakan cacing yang berwarna putih, yang pada ujung anteriornya terdapat chepalic alae. Ukuran cacing betina 8-13 mm x 0,4 mm dengan ciri ciri :

- ekor panjang dan runcing

- uterus penuh dengan telur

- mengandung 11.000-15.000 telur yang berukuran 30-60 mm

- migrasi kedaerah perianal untuk bertelur, setelah itu mati.

Gambar 4. Morfologi Oxyuris Vermicularis

à Penularan

Cacing dewasa betina pada malam hari bermigrasi ke daerah perianal untuk bertelurà hal ini menyebabkan gatal disekitar anus (pruritus ani nokturnal)à bila digaruk penularan dapat terjadi dari kuku ke mulut (self infection)à penularan lainnya yaitu dari orang ke orang melalui pakaian, dan yang lian serta penularan juga dapat terjadi dalam lingkungan yang terkontaminasi, misal melalui debu rumahà telur menetas diusus halusà larva bermigrasi didaerah sekitar anus dan tinggal sampai dewasa. Waktu untuk daur hidup kira-kira 2 minggu sampai 2 bulan.

Gambar 5. Siklus Hidup Vermicularis

à Gejala dan Tanda

Gejala klinis yang utama adalah pruritus ani yang biasanya diikuti gangguan kurang tidur.

à Diagnosis dan Pengobatan

Diagnosisnya yaitu : menemukan telur dengan anal swab atau ditemukannya telur dari apusan daerah anus, dan menemukan cacing dewasa yang keluar anus.

àPengobatan

Garam piperazin, privinium pamoat, mebendazol dan privinium pamoat efektif terhadap semua stadium,Garam piperazin, privinium pamoat, mebendazol dan privinium pamoat efektif terhadap semua stadium, pirantel dan piperazin dosis tunggal tidak efektif terhadap stadium muda, dan tiabendazol.

2.1.4. Cacing Cambuk (Trichuriasis)

à Epidemiologi

Infeksi ini menyerang hampir 500-900 juta manusia di dunia. Menyerang semua golongan umur terutama anak-anak berusia 5-15 tahun. Menyebar didaerah yang beriklim panas, pada daerah pedesaan yang sanitasinya kurang bagus penyebarannya lebih cepat terjadi.

à Etiologi

Tricuris Trichiura merupakan cacing kecil yang berbentuk seperti cambuk :

- bagian anterior langsing seperti cambuk, bagian posteriornya gemuk

- cacing betina : 5 cm, ujung ekor membulat

- cacing jantan 4 cm, ujung ekor melingkar

- habitat : Usus besar

- telur : 50-54 mm ( seperti tempayan dengan sumbat jernih di kedua kutub, menjadi matang kira-kira 3-6 minggu ditanah lembab dan teduh.

Gambar 6. Morfologi Trichuris Trichiura

à Penularan

Cara infeksi : tertelan telur infektif

Gambar 7. siklus hidup Trichuris Trichiura

à Gejala dan Tanda

Biasanya tanpa gejala (asymtomatis). Infeksi berat menyebabkan anemia ringan dan diare berdarah dan prolaps recti

à Diagnosis dan Pengobatan

Diagnosisnya menemukan telur atau cacing dewasa dalam tinja. Pengobatannya : mebendazol, albendazol, dan pirantel pamoat.

à Pencegahan

Perbaikan sanitasi dan higien pribadi.

2.2. Cestoda (Cacing Pita)

2.2.1. Cacing Pita Daging

Cacing pita daging ada tiga, yaitu Taenia solium (pada babi), Taenia saginata (pada sapi), dan Cysticercus cellulosae(pada babi). terdapat pada daging yang tidak dimasak atau kurang matang. Cacing ini bersifat Hemfrodit, panjangnya mencapai 4-10 m. Hidup di usus halus untuk menghisap karbohidrat dan protein.

Siklus hidup dimulai dari cacing dewasa dalam usus halus manusia. Cacing bertelur, dan keluar melalui tinja. Bila termakan oleh babi atau sapi, maka telur akan menetas menjadi larva dalam ususnya. Larva masuk pembuluh darah menuju jaringan otot atau daging, bila daging dimakan manusia maka akan menetap dalam usus halus.

Gejala dan tanda penyakit adalah gangguan saluran cerna dan anemia. Pengobatannya dengan kuinakrin hidroklorida. Pencegahan utamanya adalah pengobatan penderita untuk memutus rantai penularan dan memasak daging hingga matang, serta sanitasi lingkungan yang baik.

2.2.2. Cacing Pita Ikan

Penyebab penyakit adalah Diphillobothrium latum. Sumebr penularannya manusia dan beruang. Terdapat pada ikan yang mentah. Pencegahannya adalah pengawasan terhadap pengolahan ikan, pemasakan ikan, dan memperbaiki sanitasi lingkungan.

2.2.3. Cacing Pita Tikus

Penyebab penyakit Hymenolepis spp dan Drepanidotaenia spp. Sumber penularan yang sering adalah manusia dan tikus. Trdapat pada air dan makanan yang terkontaminasitelur “dwarf worm”. Pencegahannya adalah higien perorangan, pembunangan feses secara aman, penyediaan air bersih, pemberantasan dan pengandalian tikus.

2.3. Trematoda (Cacing Daun)

2.3.1. Schistosoma Mansoni

à Epidemiologi

Banyak terdapat di Afrika tropis dan Amerika selatan

à Penularan

Sumber penularan adalah manusia, kera, tikus. Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan air yang mengandung larva infektif, larva akan menmbus kulit manusia. Hospes perantara adalah siput air, genus ocomelania.

à Pencegahan

Menghindari kontak langsung dengan air yang terkontaminasi oleh larva cacing, terapi untuk penderita, pengendalian hospes perantara,, dan perbaikan sanitasi.

2.3.2. Schistosoma Japonicum

à Epidemiologi

Banyak terdapat di Jepang, Cina, Taiwan, Fhilipina, dan Indonesia.

à Penularan

Sumber penularannya adalah manusia, anjing, kucing, sapi, kerbau, kambing, domba, dan hewan liar lainnya. Hospes perantara adalah siput air tawar. Penularan melalui kontak langsung dengan air yang terkontaminasi larva infektif.

à Pencegahan

Menghindari kontak langsung dengan air tawar yang terkontaminasi, perbaikan sanitasi, terpai untuk penderita, dan pengendalian hospes perantara.

BAB III

PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Cacing merupakan salah satu agent parasit yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, mulai dari penyakit ringan sampai pada penyakit yang berat. Untuk mengetahui penyebaran penyakit cacing di suatu daerah maka perlu untuk mempelajari Epidemiologi, etiologi, penularan, tanda dan gejala, diagnosis dan pengobatan serta pencegahan terhadap penyakit yang ditimbulakan oleh cacing.

3.2. SARAN

Meskipun penyakit yang ditimbulkan oleh cacing ini bersifat asymtomatis, tapi dalam tahap lanjut dapat membahayakan kesehatan dan bahkan pada keadaan tertentu dapat menimbulkan kematian. Dengan di ketahuinya Epidemiologi, etiologi, penularan, tanda dan gejala, diagnosis dan pengobatan serta pencegahan terhadap penyakit yang ditimbulakan oleh cacing, maka diharapkan untuk lebih memperhatikan higien pribadi dan kebersihan lingkungan seperti perbaikan sanitasi agar penyebaran penyakit cacing dapat ditanggulangi yang secara tidak langsung dapat meningkatkan derajat kesehatan nasional yang optimal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar